Waktu pemulihan pasien Covid-19 berbeda beda. Ada pasien yang sudah membaik dalam beberapa hari, namun ada juga yang beberapa minggu, hingga berbulan-bulan.
Efek jangka panjang Covid-19 tersebut dinamakan Long Covid. Kondisi ini merupakan sindrom setelah Covid-19. Ada beragam gejala Long Covid. Di antaranya, batuk, gampang kelelahan, nyeri dada, nyeri sendi, diare, hilang indra perasa dan penciuman dan sebagainya.
Penelitian dari Geneva University Hospital menyimpulkan 39% dari 629 pasien Covid-19 melaporkan memiliki gejala sisa pada 7-9 bulan setelah didiagnosis.
Meski begitu, gejala berkepanjangan ini bisa sembuh. Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid -19 Wiku Adisasmito, menyampaikan kesembuhan Long Covid ini bergantung pada daya tahan tubuh.
“Siapapun yang pernah terinfeksi, berpotensi mengalami Long Covid, ini bergantung pada daya tahan tubuh dan derajat keparahan dari gejala yang dialami saat terjangkit, mereka yang mengalami Long Covid dapat sembuh, namun waktu kesembuhannya berbeda pada tiap orang, ” ujar Wiku, di Jakarta, Selasa (6/7).
Dikutip dari siaran pers covid19.go.id, Kabag Pembinaan Fungsi Rumah Sakit Bhayangkara R Said Sukanto dr Yahya memaparkan 53,7% pasien merasakan gejala Long Covid selama satu bulan, 43,6% selama satu hingga enam bulan, dan 2,7 % lebih dari enam bulan.
Yahya menegaskan, salah satu faktor penting gejala Long Covid dipicu oleh kondisi psikologis pasien. Ia menyontohkan, seseorang yang gampang cemas juga menyebabkan Long Covid. Oleh sebab itu, Yahya menyarankan agar penyintas yang masih memiliki gejala untuk terus berkonsultasi dengan dokter.
Namun Yahya mengatakan, gejala Long Covid bisa disembubkan. Seperti gejala kehilangan indra penciuman, bisa dipulihkan.
“Untuk pasien yang kehilangan kemampuan penciuman dan pengecapan memang perlu dibangkitkan lagi sensitivitasnya seperti mencium bau-bau yang sangat menyengat seperti minyak kayu putih dan parfum yang sangat harum, ini perlu dilatih agar pulih secepatnya, ” ujar Yahya.